Gedung Lawang Sewu Semarang

Lawang Sewu merupakan gedung tua yang terletak di komplek tugumuda yang dahulu disebut Wilhelmina Plein, dibangun oleh Belanda pada pertengahan abad ke-19 sebagai markas untuk mereka Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), atau Perusahaan Kereta Api (trem) Hindia Belanda. Bangunan megah bergaya art deco karya Arsitek Belanda Prof. Jacob F. Klinkhamer dan B.J Queendag menurut catatan sejarah selesai dibangun tahun 1903, kemudian diresmikan pada tanggal 1 juli 1907.

Pada jamannya mendominasi daerah sekitarnya dengan menara yang tinggi dan bangunan yang  luas, tetapi dalam perang tahun 1940-an tampaknya Jepang memanfaatkan gedung itu untuk hal-hal yang keji. Interogasi tampaknya diadakan dalam gedung dan banyak korban bahkan dibunuh oleh para penjajah (Jepang) di sini.

Pada zaman pendudukan Jepang tahun 1942, ruang bawah tanah gedung Lawang Sewu sebelumnya merupakan saluran pembuangan air di “sulap” menjadi penjara bawah tanah sekaligus saluran pembuangan air. Gedung ini juga menjadi saksi bisu pertempuran sengit antara rakyat Indonesia dengan tentara Jepang yang terkenal dengan sebutan Pertempuran Lima Hari di Semarang (14 Oktober 1945 – 19 Oktober 1945).

 

Di gedung tua inilah lokasi pertempuran yang hebat antara pemuda AMKA atau Angkatan Muda Kereta Api melawan Kempetai dan Kidobutai, Jepang. Sisa pertempuran ini masih terlihat dari bekas tembakan di salah satu tiang penyangga gedung ini.  Konon banyak para pejuang yang disiksa sampai mati di lorong bawah tanah di dalam bangunan itu. Lima di antara pejuang Angkatan Muda Kereta Api (AMKA) yang gugur dimakamkan di halaman depan Lawang Sewu, yaitu Noersam, Roesman, RM Moenardi, RM Soetardjo dan Salamoen, dan dibuat tengara di sebelah kiri pintu masuk bertuliskan nama para pejuang yang gugur.

 

Hal ini salah satu alasan mengerikan dari masa lalu yang menyebabkan berbagai kisah hantu Lawang Sewu muncul.

Masyarakat Semarang lebih mengenal gedung ini dengan sebutan Gedung Lawang Sewu (Seribu Pintu), mengingat gedung ini memiliki jumlah pintu dalam jumlah banyak, yang dalam arti kiasan banyak berarti jumlahnya seribu atau lebih, yang dalam bahasa jawa Lawang Sewu. Lawang berarti pintu dan Sewu berarti seribu.

 

Ada banyak pintu yang sangat besar dalam bangunan ini, tetapi tidak mungkin bahwa jumlah sebenarnya ada seribu. Memang ada koridor panjang dengan banyak pintu dan kamar di kedua sisinya. Hanya membutuhkan sedikit khayalan untuk membayangkan adanya hantu-hantu yang berpindah dari kamar ke kamar melalui pintu-pintu ini. Salah satunya ada kisah tentang hantu tak berkepala berkeliaran di koridor dan seorang wanita Belanda muda yang bunuh diri dalam bangunan dengan alasan yang tidak diketahui. Tapi mungkin bentuk desain bangunan dan keadaannya saat ini memungkinkan cerita seperti ini berkembang.

 

Ruang Bawah Tanah

 

Setelah Jepang mengambil alih pemerintahan Belanda di Indonesia pada sekitar tahun 1942, ruang bawah tanah gedung ini yang sebelumnya merupakan saluran pembuangan air, oleh Jepang di “sulap” menjadi penjara bawah tanah sekaligus saluran pembuangan air. Tempat ini menjadi saksi bisu kekejian Jepang, karena ruang bawah tanah ini sering dipakai sebagai tempat eksekusi para pemuda Indonesia yang melakukan perlawanan terhadap Jepang dan jasad-jasad mereka dibuang ke sungai yang terletak di sebelah gedung ini.

 

 

Di ruang bawah tanah ini terdapat berbagai macam ruang penyiksaan atau penjara, di antaranya:

  • Penjara berdiri : Ruangan berukuran kurang lebih 1 m x 1 m, yang digunakan untuk 6 orang tahanan. Para tahanan dimasukkan kedalam ruangan tersebut yang telah diisi air selutut kemudian mereka di kurung berdiri. Dengan ukuran sesempit itu maka tidak mungkin untuk jongkok, seandainya jongkok pun mereka akan terlelap air. Mereka akan dikurung sampai tewas.
  • Penjara jongkok : Ruangan yang berukuran kurang lebih selebar 1,5 m sedangkan tinggi 1 m, dipakai sebagai penjara jongkok. Tahanan sebanyak 7-8 orang harus duduk jongkok di ruangan yang sempit juga pendek ini dan dikurung sampai tewas.
  • Tempat pemenggalan kepala : Tahanan yang melakukan pemberontakan atau membandel, akan dipenggal kepalanya, didalam sebuah bak. Setelah di penggal kemudian badan dan kepala di tenggelamkan ke sungai melalui jalan bawah tanah.
  • Perantai Badan : Tempat tahanan dengan badan dirantai disiksa secara keji, baik di cambuk, disundut rokok, atau cara-cara keji lainnya.

 

Dalam perkembangannya setelah kemerdekaan digunakan sebagai kantor Djawatan Kereta Api Indonesia (DKARI) atau sekarang PT. Kereta Api Indonesia. Kemudian untuk kepentingan militer, yaitu sebagai kantor KODAM IV Diponegoro ( yang kini dipusatkan di Watu Gong ), dan terakhir digunakan sebagai Kantor Wilayah Departemen Perhubungan Jawa Tengah.

Maka dari itu Pemerintah Kota Semarang dengan SK Wali Kota 650/50/1992, memasukan Lawang Sewu sebagai salah satu dari 102 bangunan kuno atau bersejarah di Kota Semarang yang patut dilindungi. Saat ini gedung yang masuk dalam 102 bangunan kuno atau bersejarah di Kota Semarang digunakan sebagai objek wisata dengan fasilitas berupa peninggalan sejarah arsitek bangunan kuno dan antik, ada ruang bawah tanah dan menara informasi, sering pula digunakan sebagai tempat pameran dalam event tertentu.

 

**********

 

Keadaan Masa Kini

Sayangnya, melihat keadaannya saat ini, sulit sekali membayangkan bagaimana indahnya gedung ini di masa jayanya. Keadaan saat ini gelap dan menyedihkan. Dinding-dinding yang dulunya putih, sekarang memudar kusam, menghitam karena polusi dan kelalaian. Dinding yang dulunya terlukis dengan indahnya sekarang penuh dengan retakan dan wallpaper sudah mengelupas dan memperlihatkan batu bata di baliknya. Lumut dan rumput liar tumbuh di sekeliling bangunan, tikus-tikus berkeliaran di mana-mana.

 

 

Tetapi dari kelalaian dan kebobrokan mengerikan itu, masih ada bagian dari bangunan yang bertahan dan menunjukkan kejayaannya di masa silam. Ambil contoh  pintu masuk dan ruang gedung. Melangkah ke dalam gedung dari sini satu dihadapkan oleh tangga megah dan kuat seperti yang akan terlihat di sebuah kastil kuno atau katedral.

Cahaya menyinari turun ke tangga batu besar ini, diwarnai oleh kaca patri yang ditembusnya. Luar biasa, mengingat tingkat kelalaian dan kerusakan, jendela besar yang tinggi ini tetap utuh dan menakjubkan!

 

Tiba pada waktu yang tepat, adalah mungkin menikmati keindahan ruang ini yang dipenuhi oleh warna jendela kaca patri ini. Cahaya berwarna yang menyinari, membawa kehidupan dengan warna-warna yang menakjubkan, yang mungkin ditimbulkan oleh batu kelabu dari tangga megah dan tembok-tembok kusam di sekelilingnya.

Kota-kota Belanda Rotterdam, Den Haag dan Amsterdam dilukiskan di kaca. Terlukis duduk di bagian atas jendela dan di bawah ini adalah dua besar, sosok perempuan yang dari tubuhnya mengalir jubah yang dilukiskan secara rinci dan kaya warna.

 

Pada bagian lain dari jendela adalah rincian yang adalah indikasi dari kolonial dan dan fungsi bangunan sebagai perdagangan. Ada lukisan dari sebuah kapal uap naik gelombang diperkirakan merupakan pelayaran antara Eropa dan kepulauan Indonesia. Di tengah dari ke semua jendela terdapat suatu roda, tampaknya muncul dari awan, yang menggambarkan pembangunan perhubungan melalui rel kereta api.

Hal lain, yang tersisa di gedung yang menunjukkan tujuan asli dari gedung ini. Kamar yang mungkin dulu merupakan kantor yang sibuk sekarang kosong dan terlihat menyedihkan. Di sisi lain terlihat kolom yang dipasang ala kadarnya untuk menjaga agar atap tidak runtuh. Keterbengkalaian ini begitu parahnya membuat kita bertanya-tanya berapa lama sebuah bangunan bisa bertahan dalam keadaan seperti itu.

Pengabaian ini semakin menyedihkan, bahkan memalukan, mengingat kualitas desain bangunan. Di galeri terbuka dan serambi lantai dasar yang kuat dan mirip benteng, tetapi ada rincian halus juga di dalam gedung. Jendela pewarnaan-kaca adalah contoh yang sangat baik ini tetapi di tempat lain ada sentuhan arsitektur yang indah.

Beralih salah satu sudut, pengunjung tiba di sebuah lubang gelap yang membentang di antara lantai. Tidak ada yang benar-benar dapat dilihat dalam lubang hitam kecuali  sinar cahaya ke bawah dan apa yang diwariskan berupa sebuah tangga spiral terbuat dari besi cor dengan detil rinciyang indah,  yang mungkin saja berusia lebih dari 100 tahun; hari ini sudah tak terpakai dan tertutup lapisan tebal debu jelaga .

Banyak pintu Lawang Sewu yang melegenda telah hilang dan yang tersisa hampir semua tampaknya telah kehilangan kunci dan gagang pegangannya. Koridor kosong berlangit tinggi bangunan ini tidak lagi menggemakan dengan suara dan keriuhan pekerja kantor, melainkan hanya suara-suara pengunjung yang ingin tahu yang terdengar dan banyak dari pengunjung datang karena reputasi bangunan ini berhantu.

Tapi seharusnya Gedung ini menjadi penting bukan karena cerita hantu yang melegenda. Bandung memiliki Gedung Sate, suatu gedung megah yang menjadi simbol kota itu. Semarang seharusnya memiliki Lawang Sewu sebagai gedung yang berfungsi dan dipakai sebagai simbolnya.

 

******************

 

Saat ini bangunan yang berusia 181 tahun tersebut kosong dan bereputasi buruk sebagai bangunan angker dan seram. Sesekali digunakan sebagai tempat pameran, di antaranya Semarang Expo dan Tourism Expo. Pernah ada juga wacana yang ingin mengubahnya menjadi hotel. Pada tahun 2007, bangunan ini juga dipakai untuk film dengan judul yang sama dengan bangunannya: Lawang Sewu.

Sementara orang ada yang mengatakan bahwa cerita hantu yang merupakan bagian dari gedung ini telah mencegah orang untuk memperbaiki dan membawa gedung ini berfungsi kembali… Begitu konyolnyakah pendapat itu?

 

 

Ditulis kembali oleh R. Hutami, data dikumpulkan dari berbagai sumber, antara lain:

http://www.thejakartapost.com/news/2009/02/09/lawang-sewu-ahaunted-sad-place.html

http://thearoengbinangproject.com/2008/03/wisata-sewu/

About these ads

Tentang admin

Sesuatu yang baik, belum tentu benar. Sesuatu yang benar, belum tentu baik. Sesuatu yang bagus, belum tentu berharga. Sesuatu yang berharga/berguna, belum tentu bagus.
Tulisan ini dipublikasikan di Asal - Usul dan tag , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Gedung Lawang Sewu Semarang

  1. Ping balik: Eksekusi, Della Citra Dikepung di Rumah Makan | Indonesia Search Engine

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s