Televisi Sebagai Juru Dongeng Ajaib Yang Buruk

Di banyak rumah, ada pendongeng setia yang sangat disukai anak-anak, namanya televisi. Anak-anak danTV adalah perpaduan yang sangat kuat. Tak banyak hal lain dalam kebudayaan kita yang mampu menandingi kemampuan TV yang luar biasa untuk menyentuh anak-anak dan mempengaruhi cara berpikir serta perilaku mereka.

Anak merasa ketertarikan yang besar terhadap TV. Berbeda dengan banyak media lain, TV adalah medium anak-anak. TV bisa menggenggam anak-anak, padahal media lain tak mampu melakukannya. Anak-anak meluangkan lebih banyak waktu untuk menonton TV daripada untuk kegiatan apapun lainnya, kecuali tidur dan main. 

Si ”juru dongeng modern”ini sangat berjaya sebagai pendongeng, yang setia yang setia menceritakan berbagai kisah yang tak henti-hentinya dari pagi hingga malam.

Mariem Winn adalah penulis buku yang bejudul The Plug-In Drug( 1977) yang menyebut anak-anak sebagai  “passive , zombie-like” saat berada di depan pesawat TV. Winn menganalogikakan TV sebagai Drugs, yang mana sebagai obat bius atau alkohol yang membuat pemirsa ketagihan untuk menonton apa yang sedang ditayangkan di dalam media tersebut (  TV ).

Melalui tayangan-tayangan mimpinya, TV tidak sekedar mendongeng tapi juga memberi informasi apa saja. Dan jika bosan atau tidak suka, seorang penonton TV dapat menonton mana saja tayangan yang dianggap bagus.

Jika dongeng semata-mata dipandang sebagai hiburan, pastilah TV dapat menggusur dongeng karena dengan audio-visualnya. karena dengan audio-visual dari TV inilah yang sangat-sangat menarik sebagai media hiburan. Apalagi teknologi TV makin lama makin maju sehingga daya pikatnya pun makin besar.

Banyak orangtua sering tidak menyadari bahwa TV sebenarnya adalah pendongeng yang buruk. Memang, jika dibanding dengan dongeng, TV jelas memiliki satu keunggulan : sifatnya yang audio-visual. Namun juustru kesederhanaan “ teknologi “nya, dongeng memiliki keunggulan yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan TV.

Banyak sekali acara TV yang bertema anti-sosial, muatan yang tidak sehat bagi anak. Tema-tema kekerasan dalam banyak pengamatan dan pengamatan terbukti menjadi tema utama tayangan TV. Milton Chen , ahli pertelevisian anak-anak, secara sangat impresif betapa masyarakat telah terkepung oleh materi-materi kekerasan di rumah sendiri oleh benda bernama TV. Saat ia menulis tentang kekerasan di TV, ia menulis subjudul : “Anda ingin menyaksikan pembunuhan ? hidupkan TV : pelayanan 24 jam!

Sebaliknya, dongeng  justru menampilkan tema-tema pro-sosial, muatan yang sehat bagi anak. Buku dongeng anak-anak secara umum tidak mengemukakan teme-tema seks, cinta yang erotis, kebencian, kekejaman, prasangka, serta masalah hidup dan mati tema-tema yang  justru banyak diangkat dalam banyak acara dalam TV kita. Kalau pun segi-segi buruk diangkat menjadi persoalan misalnya tentang kemiskinan atau  kejahatan maka amanatnya biasanya disederhanakan dengan menyediakan akhir kisah yang indah. Misalnya, kisah Bawang Merah dan Bawang Putih atau Cinderella.

Tambahan lagi, dongeng anak tidak sekedar menampilkan tema pro-sosial. Dongeng anak itupun sangat banyak memasukkan pesan-pesan moral semacam kesetiakawanan, cinta kasih, sikap berbakti kepada orang tua, kecintaan kepada alam, kejujuran dan ketabahan menghadapi kehidupan, dan mamentingkan kepentingan orang banyak.

Cara penyajian dongeng dari orang tua ke anak memiliki fungsi sosial yang sangat dahsyat. Posisi dialogis dalam mendongeng mempererat emosi antara orang tua dan anak. Komunikasi dalam dongeng berkembang dua arah, karena si anak mendapat kesempatang untuk bertanya dan mamberi komentar. Ini tak di jumpai pada TV yang arah komunikasinya berjalan satu arah.

Apalagi, dongeng memungkinkan anak membentuk imajinasi bebas dari apa yang diceritakan. Imajinasi atau fantasi ( gambaran, bayangan, angan-angan, daya ingat untuk menciptakan sesuatu ) merupakan salah satu kebutuhan intrinsik bagi pertumbuhan anak-anak, karena fantasi merupakan unsur yang memungkinkan dan mendukung kreativitas.

Kebebasan berfantasi, yang notabene adalah kebebasan menafsirkan simbol-simbol, yang tumbuh terkala mendengar dongeng tidak akan didapatkan dari TV. Kotak ajaib itu justru mengabsolutkan simbol.

Berbeda dengan dongeng yang memungkinkan anak dapat mengabstraksikan secara bebas apapun yang didengarnya, kesempatan itu ditiadakan oleh TV. Media ini menutup kemungkinan proses tawar-menawar untuk menafsirkan realitas. Simbol-simbol yang ditampilkan kemudian dimutlakkan dan dijalin dalam story board yang tak putus-putus. Karenanya tidak ada peluang berpikir alternatif atas suatu simbol yang muncul. Kalau toh ada jeda dalam TV, itu diisi oleh iklan.

Mendongeng menjadi bermakna karena dua ( 2) hal :

1.  Makna yang diberikan oleh cerita itu sendiri,dan

2.  Aktivitas ( perilaku ) mendongeng.

Kegiatan mendongeng saat diwarnai nuansa emosional dan manusiawi. Mendongeng adalah manifestasi rasa peduli dan kasih sayang orang tua kepada anak. Ini sangat bermanfaat dalam perkembangan kepribadian anak.

Dengan menjadi juru cerita bagi anak-anak, orang tua telah mengarahkan secara aktif perkembangan mental anak-anak, sikap hidupnya, dan ekspresi emosinya. Tanpa terasa dongeng dapat membatu anak-anak untuk tumbuh sebagaimana yang didambakan orang tua. Dengan mengingatnya acara TV yang buruk, bayangkanlah jika yang menjadi juru cerita ini adalah televisi!

Mendongeng adalah suatu proses kreatif. Dengan bercerita seseorang menciptakan suatu dunia yang lain dan mengharapkan dapat mengiring para pendengar atau penontonnya agar dengan penuh membenarkan dunia yang diceritakan. Dengan beberapa patah kata saja, seperti ” pada zaman dahulu kala…”, pendengar dongeng seolah-olah dilontarkan kepada suatu dunia tanpa batas waktu. Para pendengar akan merasa tercekam dan terserap oleh kata demi kata yang diucapkan pendongeng atau  dan  imajinasi mereka mengembang sesuai si pendongeng. Kebiasaan menumbuhkan kreativitas melampaui ruang dan waktu ini dibutuhkan saat anak belajar di bangku sekolah.

Demikian pentingnya dongeng bahkan sudah teruji sampai ke tingkat yang lebih makro. David Mc Clelland adalah salah satu dari banyak peneliti yang sudah membuktikan bahwa dongeng sangat penting bagi kemajuan perekonomian suatu bangsa.

Teori McClelland tentang motivasi berprestasi merupakan karya klasik ( kuno ) teori modernisasi. Ia menekankan signifikansi yang utama dari masalah kepribadian dan sosialisasi dari anggota masyarakat yang mau membangun. Teori ini menerapkan metode proyeksi untuk mengukur motivasi berprestasi seseorang.

Sumber : http://www.wikimu.com/

Tentang admin

Sesuatu yang baik, belum tentu benar. Sesuatu yang benar, belum tentu baik. Sesuatu yang bagus, belum tentu berharga. Sesuatu yang berharga/berguna, belum tentu bagus.
Pos ini dipublikasikan di Umum dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s