3. PANGERAN JOSARI

Pangeran Josari adalah anak tunggai Adipati Yudapati, penguasa Kadipaten Paranggaruda. Adipati Yudapati termasuk penguasa yang sangat disegani oleh para kawula negeri dan seiuruh rakyat di kadipaten Paranggaruda. Tanah dan wilayah Paranggaruda meliputi sungai Juwana ke selatan, sampai pengunungan Kendeng Utara yang berbatasan dengan wilayah Kabupaten Grobogan.

Untuk melancarkan tugas-tugas pemerintahan Adipati Yudapati dibantu oleh para Punggawa  Kadrp aten P aranggaruda yaitu : Singapati sebagai patih, Yuyurumpung penguasa wiiayah Kemaguhan, Ki Singabangsa di Kedalon, Ki Gagakpati di  Tlogomojo, Ki  Dandangwiring,  Ki Kudasuwengi di Jembangan, dan Ki Sondong Majeruk. Mereka adaiah tokoh prajurit handal di Kadipaten Paranggaruda.

Adipati Yudapati menaruh harapan besar kepada putra satu-satunya yaitu Pangeran Josari sebagai  calon penggantinya sebagai penerus penguasa  Kadipaten Paranggaruda.

Adipati Yudapati menyediakan empat abdi khusus untuk mengurusi Pangeran Josari. Kesehariannya segala permintaan Pangeran  Josari kecil  selalu dituruti. Mulai bangun tidur pagi sampai menjelang tidur malam. Semua kebutuhan dilayani oleh  para abdi kadipaten. Para abdi antara satu dengan yang  lain mempunyai tugas sendiri-sendiri yaitu bertugas merawat kamar, menyuapi setiap makan, memandikan setiap hari dan mengajak bermain-main. Pelayanan yang berlebih-lebihan mengakibatkan kehidupan Pangeran Josari kecil menjadi manja  dan kerdil jiwanya. Ia tidak pemah merasakan  penderitaan, lapar dan tidak mengerti susahnya hidup  sehingga hidup ini dianggap indah terus. Apabila membutuhkan pada sesuatu tinggal minta dan saat itu pula para abdi siap melayaninya.

Ketika sang Pangeran Josari usianya menjelangdewasa mulai tampak perilakunya yang kurang terpuji. Setiap hari   senang menghambur-hamburkan uang untuk berfoya-foya, temperamental, dan berwatak sombong.

Keangkuhan tersebut karena Pangeran Josari merasa anak  yang seorang adipati kaya raya.  keinginan Semua bisa jiwa dipenuhi karena mempunyai uang banyak. Dalam jiwa Pangerang Josari sudah terpatri semboyan uang adalah segalanya.

Beberapa hari kemudian. Patih Singapati danpengiringnya tel ah tiba kembali  di Kadipaten Paranggaruda. Mereka disambut dengan tidak sabar oleh Adipati Yudapati. Pangeran Josari dengan  bertolak pinggang  sangat angkuh ingin segera mendengar jawaban penguasa dari Carangsoka.

Patih Singapati dengan duduk bersimpuh di depan Adipati Yudapati melaporkan bahwa Adipati Puspahandungjaya menerima pinangan. Namun Dewi Rayungwulan minta pinangan syarat adalah seperangkat gamelan yang berbunyi sendiri. Apabila persyaratan dipenuhi maka Dewi Rayungwulan akan menerima pinangan Pangeran Josari dari Paranggaruda.

Pangeran Josari mendengar ucapan Patih Singapati, wajahnya mendadak merah padam. Persyaratan tersebut sulit diwujudkan, dan hanya bentuk penolakan secara halus. Pangeran Josari jengkel dan marah, tangannya mengepal danbergetar.

Adipati Yudapati mengenal betul  tabiat putranya yang  pemah tidak mau bersusah payah bila menginginkan sesuatu. Maunya  apa yang dikehendaki segera dipenuhi tanpa harus berjuang dan berkorban. Namun, Adipati Yudapati memang sangat menyayangi putera tunggalnya itu bahkan sangat memanjakannya dengan berlebihan.

Adipati Yudapati segera memanggil para abdi yangi merupakan ahli  dalam pencarian  gamelan. Lalu, diperintahkan Yuyurumpung Kemaguhan dan Singapati untuk mencari hingga ketemu seperangkat gamelan yang dapat berbunyi sendiri. Setelah memberi salam hormat Yuyurumpung dan Singapati mohon diri melaksanakan tugas Sang Adipati Yudapati.

Singapati dan Yuyurumpung seteiah menerima tugas dari SangAdipati Yudapati hatinya merasa was-was. Tugas tersebut dianggap sangat aneh dan berat untuk berhasil. Namun, tugas seberat apapun dari atasan itu tidak boleh  ditolak. Mengenai berhasil dan tidak itu jangan dijadikan kendala. Yang penting setiap tugas harus dijalani dengan sungguh-sungguh.

Berhari-hari bahkan berbulan-bulan Patih Singapati dan Yuyurumpung   mencari informasi tentang  keberadaan dalang yang mempunyai gamelan seperangkat  yang bisa berbunyi sendiri. Seluruh daerah Kadipaten Paranggaruda dikelilingi bahkan sampai ke kadipaten tetangga. Namun  usaha yang keras tetap dijalankan hingga ditemukannya seperangkat gamelan sebagai syarat pinangan yang diminta oleh Dewi Rayungwulan.

Sementara para abdi memeras keringat mencari gamelan  yang bisa berbunyi sendiri, pangeran Josari bersenang-senang dengan para sahabatnya. Berfoya-foya dan bersuka ria
dengan para dayang-dayang kadipaten, yang terpaksa menurutinya meskipun hatinya sangat tidak menerima, semua keinginan Pangeran Josari harus dituruti. Bila  ada yang coba-coba membangkang maka tak segan-segan pangeran Josari bertindak kasar, sehingga para abdi   banyak yang tidak kuat menerima perlakuan yang semena-mena.

Tentang admin

Sesuatu yang baik, belum tentu benar. Sesuatu yang benar, belum tentu baik. Sesuatu yang bagus, belum tentu berharga. Sesuatu yang berharga/berguna, belum tentu bagus.
Pos ini dipublikasikan di Sejarah Pati dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s